Minggu, 14 Agustus 2011

Undangan Milad XII LKMI-HMI Cab. Manado

bersamaan dengan ini kami mengundang kanda/yunda untuk bisa menghadiri hajatan LKMI dalam rangka Milad XII.

Kamis, 14 Oktober 2010

MENGGUGAT UJIAN KOMPETENSI DOKTER INDONESIA

Sudah menjadi rahasia umum, bahwa pelayanan kesehatan di negara kita semakin jauh dari semangat pasal 28 H UUD 45, yang berbunyi; bahwa setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan. Setelah 65 tahun Indonesia merdeka, rupa pelayanan kesehatan oleh negara semakin mengarah pada komoditi bisnis (komerialisasi); rumah sakit-rumah sakit pemerintah dan sarana-sarana pelayanan kesehatan milik pemerintah lainnya dijadikan sumber untuk mengangkat pendapatan, bersaing dengan rumah sakit-rumah sakit swasta dalam dan luar negeri. Orientasi rumah sakit sebagai alat perpanjangan negara untuk melayani rakyatnya telah dijadikan “pabrik” untuk mengakumulasikan modal di industri kesehatan. Sudah banya cerita derita dari orientasi pelayanan kesehatan yang saat ini dijalankan oleh pemerintah SBY. Disisi lain, kebutuhan akan dokter bagi rakyat masih jauh dari ideal. Saat ini, baru 40 % Puskesmas (Pusat Kesehatan Masyarakat) di kepalai oleh seorang dokter. Belum lagi kebutuhan akan dokter-dokter specialis, menurut Persatuan Dokter Specialis Bedah Umum Indonesia (PABI), Perbandingan Dokter Bedah dengan jumlah penduduk saat ini 1: 100.000. Itupun masih terkonsentrasi di kota-kota besar, seperti di Jakarta, Surabaya, Bandung. Sedangkan di kota/kabupaten lainnya, banyak rumah sakit yang tak memiliki dokter specialis bedah. Situasi ini sangat kontras dibandingkan dengan Kuba, negara sosialis yang di embargo oleh Amerika Serikat. Pelayanan kesehatan di Kuba dimulai dengan layanan kesehatan tingkat pertama di masyarakat. Layanan kesehatan ini berupa menempatkan seorang dokter keluarga yang melayani 100-150 keluarga. Untuk membina dan menjaga kualitas dokter keluarga, maka pada setiap 10 dokter keluarga ditempatkan sebuah Kantor Satuan Tugas Dokter Keluarga. Satuan tugas ini terdiri atas 3 dokter spesialis; yaitu spesialis penyakit dalam, spesialis kebidanan dan kandungan, dan spesialis penyakit THT, serta seorang pekerja sosial masyarakat. Struktur tertinggi dari layanan kesehatan primer di Kuba adalah sebuah poliklinik yang melayani sekitar 40.000 penduduk untuk setiap poliklinik. Dengan cara ini, pemerintahan Kuba berhasil menekan akan kematian dan mempertinggi harapan hidup. Lain lagi halnya dengan pemerintah Indonesia. Baru-baru ini, pemerintah mengumumkan akan memberikan pelayanan persalinan gratis bagi warga miskin pada 2011 nanti, sasarannya untuk menurunkan tingkat kematian bayi dan ibu melahirkan guna memenuhi target MDGs (Millenium Development Goals). Lagi-lagi pemerintah hanya mengejar target kepentingan Imperialisme, bukan berpikir bagaimana mengembalikan peran rumah sakit-rumah sakit sesuai dengan amanat para pendiri bangsa, bagaimana membangun struktur dan infra-struktur kesehatan agar kesehatan rakyat terjamin. Pemerintah seharusnya membangun struktur dan infra-struktur kesehatan guna mengejar kebutuhan dokter dan para medis untuk rakyat. Pendidikan Fakultas kedokteran dan para medis mestinya digratiskan, selain memberi beasiswa-beasiswa kepada pemuda-pemudi kita untuk belajar keluar negeri, khususnya Kuba. Karena di Kuba, pendidikan kedokteran bukan hanya sebatas tekhnologi dan ilmu pengetahuan saja, ada hal yang lebih penting dari itu yang diperlukan oleh dokter dan para medis, yaitu pembelajaran akan nilai-nilai luhur kemanusiaan. Keinginan dari Komisi IX DPRI untuk meniadakan Ujian Kompetensi Dokter Indonesia (UKDI) merupakan salah satu langkah maju untuk mempercepat kebutuhan akan dokter-dokter baru ditengah rakyat. Karena dengan UKDI ini, selain memperlambat proses seseorang untuk menjadi dokter, juga dibutuhkan dana yang tidak sedikit, misalnya saja biaya untuk menjadi seorang dokter specialis di sebuah perguruan tinggi tertentu, dibutuhkan dana sampai 1 Milyar. Memang benar, perlu ada standardisasi dokter. Standarisasi ini harusnya dimulai dari saat penerimaan calon mahasiswa fakultas kedokteran. Kurikulum dan akreditasi merupakan salah satu jawaban yang baik untuk standardisasi tersebut selain proses disaat mereka menjadi mahasiswa. Tentu saja kita layak bercuriga terhadap pemerintah saat ini, sebab mereka lebih memilih melakukan program-program belas kasihan kepada rakyatnya dari pada membangun struktur dan infra-struktur kesehatan yang justru mendesak dibutuhkan oleh rakyat saat ini. Kita juga layak bercuriga jika UKDI tak lebih dari sumber dana yang aman untuk di korupsi, toh tak perlu ada laporan ke publik atas pengelolaan dana tersebut.


marzuki abdul,S.Ked

LKMI-HMI CABANG MANADO

Rabu, 22 September 2010

Selasa, 21 September 2010

Milad ke XI LKMI-HMI Cabang Manado


Milad LKMI ke XI

Milad LKMI yang bertepatan dengan 17 Ramadhan kali ini LKMI mengadakan kegiatan sosial yang bertempat di kelurahan ternate baru Manado.
kegiatan berupa diskusi sekitar puasa dan kesehatan, layanan kesehatan gratis, plus pemeriksaan gula darah, kolesterol, dan asam urat bagi masyarakat.

Acara kecil-kecilan yang diadakan di sekretariat LKMI-HMI Cab.Manado, sekalian melakukan kontemplasi LKMI secara keseluruhan.
suasana berlangsung khidmat dan LKMI banget !!

in picture;
atas; (Tampak direktur LKMI Fikri Suadu sedang menjelaskan manfaat puasa bagi kesehatan tubuh)

bawah; berdiri (Marzuki Abdul, Fikry Ferdian, Ririn Hardianty, Betty Olii)
jongkok (Suari Ali, Rizal, Fikri Suadu, Hazrudin Al Gebra, David Pakaya)
duduk (Hidayat Abdul)

Minggu, 19 September 2010

LKMI Social and Fun Weekend


"Social and Fun weekend"

sesuai dengan tema kegiatan, maka kegiatan ini merupakan kegiatan sosial yang bertujuan untuk berbagi dengan sesama, sekaligus juga menjadi ajang "liburan" bagi anak-anak LKMI Manado.
Bertempat di desa Molinow, sebuah desa pesisir dengan mayoritas penduduk bermata pencaharian sebagai nelayan. Kegiatan berlangsung selama 3 hari (mulai dari tanggal 18-20 Juli 2010) dengan tiga kegiatan pokok yaitu, layanan kesehatan gratis, taman belajar, serta edukasi kesehatan.
Masyarakat sangat antusias dalam menyambut kegiatan tersebut. banyak cerita dan kisah indah selama berada di desa tersebut. setidaknya semangat pengabdian yang berlandaskan nilai-nilai kemanusiaan terpancar dari tingkah anak-anak LKMI Manado.

Sabtu, 18 September 2010

MENANTI ARAH PEMBANGUNAN KESEHATAN SULAWESI UTARA 5 TAHUN KEDEPAN

Selasa 3 Agustus 2010 yang lalu beberapa daerah di Sulawesi Utara secara serentak melaksanakan pesta demokrasi atau Pemilukada. Seluruh tahapan proses mulai dari pencalonan sampai kampanye telah dilalui, seluruh “aji mumpung” para kandidat telah disampaikan ke khalayak ramai, sambil berharap khalayak ramai akan tertarik hingga akhirnya memilih “aji mumpung” tersebut.


Isu kesehatan merupakan salah satu dari sekian “aji mumpung” yang ditawarkan para kandidat peserta pemilukada. Beragam wacana mulai dari peningkatan anggaran untuk pos kesehatan, pengobatan/pelayanan kesehatan gratis, maupun pemerataan distribusi tenaga kesehatan, menjadi primadona isu kesehatan yang ditawarkan. Namun dari beberapa isu diatas, tampaknya pengobatan/pelayanan kesehatan gratis merupakan primadona para kandidat untuk menarik simpati khalayak ramai.


Pemilih cerdas, menjadi slogan yang selalu digembar-gemborkan setiap kali menjelang tahapan proses pemilukada, namun disayangkan tidak ada upaya berarti yang dilakukan untuk bagaimana membuat pemilih menjadi benar-benar cerdas. Yang perlu saya garis bawahi bahwa kecerdasan tidak merupakan bawaan yang di dapatkan sejak lahir, yang bila diistilahkan menjadi “kecerdasan kongenital”.

Melihat isu kesehatan hari ini yang belum mendapatkan perhatian lebih dari masyarakat, maka tidak mengerankan jika dari waktu ke waktu isu kesehatan yang paling digandrungi masyarakat adalah pelayanan kesehatan gratis, sehingga tidak mengherankan juga kalau pelayanan kesehatan gratis merupakan primadona isu kesehatan yang ditawarkan para kandidat. Padahal pelayanan kesehatan, seberapa besarpun anggaran yang akan digelontorkan untuk itu, hanya mempengaruhi 10 % terhadap peningkatan derajat kesehatan masyarakat. Disamping itu juga, pelayanan kesehatan gratis merupakan HAK yang wajib didapatkan masyarakat, sebagaimana termaktub dalam UU, sehingga dengan sendirinya menjadi tanggung jawab pemerintah untuk memberikannya kepada masyarakat.


Pelayanan kesehatan gratis bukan merupakan suatu kebijakan, tapi saya lebih suka menyebutnya sebagai sebuah keharusan yang wajib diberikan pemerintah.


Idealnya arah pembangunan kesehatan dirahkan pada paradigma sehat, yang merupakan sebuah cara pandang atau pola pikir yang melihat pentingnya menjaga kesehatan dan mencegah penyakit bukan hanya mengobati penyakit atau memulihkan kesehatan. Dua hal pokok yang harus menjadi perhatian terkait hal tersebut yaitu bagaimana menciptakan lingkungan yang sehat dan membentuk perilaku masyarakat menjadi perilaku sehat ( sektor hulu), tentunya tanpa mengesampingkan aspek layanan kesehatan yang berkualitas (sektor hilir). Sehingga dengan adanya penanganan dari hulu ke hilir maka penanganan yang komperhensif dan menyeluruh dapat dilakukan. Jika di analogikan seperti sungai, dimana sampah yang tertumpuk di bagian muara sungai diakibatkan oleh karena ulah masyarakat yang membuang sampah sembarangan ke sungai. Jika fokus penanganan sampah hanya ditujukan bagaimana membersihkan sampah yang tertumpuk di muara sungai tanpa mencegah agar masyarakat tidak membuang sampah ke sungai, maka dari hari ke hari jumlah sampah yang tertumpuk di muara sungai akan semakin banyak, yang dengan sendirinya anggaran yang dibayarkan untuk mengangkat sampah juga akan semakin besar pula. Seperti itu juga dengan derajat kesehatan. Jika fokus kebijakan hanya di fokuskan bagaimana menyembuhkan orang sakit (layanan kesehatan yang berkualitas, misalnya dengan membangun RS atau pengobatan gratis) maka dari hari ke hari jumlah penderita baru akan semakin bertambah. Tapi jika arah kebijakan di fokuskan ke upaya bagaimana agar seseorang yang sehat tidak jatuh sakit, maka dari hari ke hari jumlah penderita baru akan semakin menurun, sehingga alokasi anggaran yang di gunakan untuk layanan kesehatan juga akan semakin berkurang tiap periodenya.


Bloom menjelaskan bahwa derajat kesehatan seseorang di pengaruhi 4 faktor, yaitu perilaku, lingkungan, layanan kesehatan, dan genetik. Dari keempat faktor tersebut perilaku dan lingkungan merupakan dua faktor utama yang berpengaruh secara signifikan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyrakat. Sekali lagi tentunya tanpa mengesampingkan aspek layanan kesehatan yang berkualitas.

Kasus yang paling segar yang ada dingatan saya terkait hal diatas adalah kasus yang menimpa bocah 3 tahun yang bernama Kenny Kawulusan, warga Molompar, Minahasa Utara yang masuk rumah sakit Prof R. D. Kandou pada bulan juli 2010 karena menderita penyakit Rabies. Penyakit mematikan yang disebabkan oleh virus Rabies dengan cara penularannya lewat gigitan anjing yang terifeksi virus tersebut. Hemat saya jika orang tua Kenny Kawulusan memiliki pengetahuan tentang bahaya penyakit tersebut, tentunya kejadian yang menimpa Kenny saat ini tidak sampai terjadi. Seharusnya pada saat kenny digigit Anjing yang terinfeksi virus tersebut, hal pertama yang harus dilakukan adalah mencari tahu siapa pemilik anjing tersebut dan meminta agar Anjing tersebut dirawat (diikat dan diberi makan), tujuannya adalah untuk mengetahui apabila anjing tersebut terinfeksi virus mematikan atau tidak. Apabila anjing tersebut terinfeksi virus rabies, maka dalam waktu kurang dari 2 minggu pasti anjing tersebut akan mati, atau apabila anjing yang menggigit tersebut tidak ditemukan atau dibunuh, maka sang bocah malang tersebut (Kenny) dapat segera dibawa ke pusat kesehatan terdekat untuk selanjutnya mendapatkan vaksin rabies, sehingga hal yang tidak diinginkan sebagian besar orang tua tersebut tidak terjadi pada bocah malang tersebut.


Hubungan kasus kenny dengan paradigma sehat yang saya maksudkan adalah pada gerakan pembangunan berwawasan kesehatan yang nantinya akan mendorong terbinanya perilaku sehat masyarakat. Perilaku sehat masyarakat akan terbentuk bilamana adanya edukasi kesehatan yang intens dan terpadu dari institusi terkait, dalam hal ini dinas kesehatan. Puskesmas sebagai ujung tombak institusi kesehatan harusnya bisa lebih intens dalam hal memberikan edukasi kesehatan tersebut, sehingga perilaku sehat masyarakat akan terbentuk. Realitas hari ini, sebagian besar puskesmas hanya fokus ke fungsi pengobatan dan posyandu, dengan mengesampingkan fungsi-fungsi lainnya.

Semoga hasil pemilukada 3 agustus yang lalu dapat menghasilkan pemimpin yang mampu membawa arah kesehatan Masyarakat Sulawesi Utara ke arah yang terang benderang melalui sebuah gerakan pembangunan berwawasan sehat yang didasari pada paradigma sehat (pembangunan kesehatan perlu segera digeser ke arah upaya promotif-preventif yang seimbang dengan upaya kuratif-rehabilitatif). Semoga, Wassalam !

Rabu, 21 Mei 2008

MUSLEM IV


SELAMAT ATAS TERPILIHNYA DIREKTUR LKMI CABANG MANADO PERIODE 2008-2009 SAUDARA TAUFIK..........menggantikan dr. GINA APRIANI semoga LANGKAH LKMI SEMAKIN TEGAP, KUAT DAN PASTI MENGIBARKAN PANJI ISLAM DENGAN TOTALITAS BAKTI KESEHATAN LKMI MANADO YANG TAHUN INI GENAP BERUSIA 10 YAHUN......

BISMILLAH......ALLAH SWT MENYERTAI LKMI....seterjal apapun jalan lkmi....pantang mundur!!!!
YAKIN USAHA SAMPAI